This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 16 Maret 2013

Informasi Penyakit : Bronchitis (Penyebab dan Pengobatanya)

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/images/ency/fullsize/17099.jpg
PENDAHULUAN

Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ), sedangkan bronkus besar jarang terjadi.
Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien, dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ).

Di negara barat, kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik.

Di Indonesia belum ada laporan tentang anka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita. Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan congenital.

ETIOLOGI

Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun didapat.
a. Kelainan congenital
Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran penting. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai berikut :
- Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua paru.
- Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal lainya, misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis), sindrom kartagener ( bronkiektasis konginetal,sinusitis paranasal dan situs inversus), hipo atau agamaglobalinemia, bronkiektasis pada anak kembar satu telur ( anak yang satu dengan bronkiektasis, ternyata saudara kembarnya juga menderita bronkiektasis ), bronkiektasis sering bersamaan dengan kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus, penyakit jantung bawaan, kifoskoliasis konginetal.

b. Kelainan didapat
Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut :

- Infeksi
Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang sering  kambuh dan berlangsung lama, pneumonia ini merupakan komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak, tuberculosis paru dan sebagainya.

- Obstruksi bronkus
Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab : korpus alineum, karsinoma bronkus atau tekanan dari luar terhadap bronkus.


PERUBAHAN PATOLOGIS ANATOMIK

Terdapat berbagai macam variasi bronchitis, baik engenai jumlah atau luasnya bronkus yang terkena maupun beratnya penyakit :

a. Tempat predisposisi bronchitis
Bagian paru yang sering terkena dan merupakan predisposisi bronchitis adalah lobus tengah paru kanan, bagian lingua paru kiri lobus atas, segmen basal pada lobus bawah kedua paru.

b. Bronkus yang terkena
Bronkus yang terkena umumnya yang berukuran sedang, bronkus yang terkena dapat hanya satu segmen paru saja maupun difus mengenai bronki kedua paru.

c. Perubahan morfologis bronkus yang terkena

- Dinding bronkus
Dinding bronkus yang terkena dapat mengalami perubahan berupa proses  inflamasi yang sifatnya destruktif dan irreversibel. Jaringan bronkus yang mengalami kerusakan selain otot-otot polos bronkus juga elemen-elemen elastis.

- Mukosa bronkus
Mukosa bronkus permukaannya menjadi abnormal, silia pada sel epitel menghilang, terjadi perubahan metaplasia skuamosa,. Apabila terjadi eksaserbasi infeksi akut, pada mukosa akan terjadi pengelupasan, ulserasi.

- Jaringan paru peribronchiale
Pada keadaan yang hebat, jaringan paru distal akan diganti jaringan fibrotik dengan kista-kista berisi nanah.

d. Variasi kelainan anatomis bronchialis
Telah dikenal 3 variasi bentuk kelainan anatomis bronchitis, yaitu :

- Bentuk tabung
Bentuk ini sering ditemukan pada bronchitis yang menyertai bronchitis kronik.

- Bentuk kantong
Ditandai dengan adanya dilatasi dan penyempitan bronkus yang bersifat irregular. Bentuk ini berbentuk kista.

- Bentuk antara bentuk tabung dan kantong

e. Pseudobronchitis
Pada bentuk ini terdapat pelebaran bronkus yang bersifat sementara dan bentuknya silindris. Bentuk ini merupakan komplikasi dari pneumonia.


PATOGENESIS

Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus dalam kandungan. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus, factor infeksi pada bronkus atau paru-paru, fibrosis paru, dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru.

Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme dasar :

1.  Infeksi bacterial pada bronkus atau paru, kemudian timbul bronchitis. Infeksi pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah infeksi dan kemudian timbul bronchitis.

2.  Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis, pada bagian distal obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus.
Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik. Keluhan-keluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . keluhan-keluhan yang timbul erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena, tingkatan beratnya penyakit, lokasi bronkus yang terkena, ada atau tidaknya komplikasi lanjut.. keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya beberapa hal : adanya kerusakan dinding bronkus, akibat komplikasi, adanya kerusakan fungsi bronkus.

Mengenai infeksi dan hubungannya dengan patogenesis bronchitis, data dijelaskan sebagai berikut ;
a. Infeksi pertama ( primer )
Kecuali pada bentuk bronchitis kongenital. Masih menjadi pertanyaan apakah  infeksi yang mendahului terjadinya bronchitis tersebut disebabkan oleh bakteri atau virus. Infeksi yang mendahului bronchitis adalah infeksi bacterial yaitu mikroorgansme penyebab pneumonia. Dikatakan bahwa hanya infeksi bakteri saja yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding bronkus sehingga terjadi bronchitis, sedangkan infeksi virus tidak dapat ( misalnya adenovirus tipe 21, virus influenza, campak, dan sebagainnya ).

b. Infeksi sekunder
Tiap pasien bronchitis tidak selalu disertai infeksi sekunder pada lesi, apabila    sputum pasien yang semula berwarna putih jernih kemudian berubah warnanya menjadi kuning atau kehijauan atau berbau busuk berarti telah terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob misalnya : fusifomis fusiformis, treponema vincenti, anaerobic streptococci. Kuman yang erring ditemukan dan menginfeksi bronkus misalnya : streptococcus pneumonie, haemophilus influenza, klebsiella ozaena.

GAMBARAN KLINIS

Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan.

Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala :

1. Keluhan-keluhan

a. Batuk
Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis, jumlah seputum bervariasi, umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid, sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen, dapat memberikan bau yang tidak sedap.

Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat, misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen, dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian
- Lapisan teratas agak keruh
- Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva ( ludah )
- Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ).

b. Haemaptoe
Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis, kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ).

Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ), haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru, drainasenya baik, sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk., pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Pada tuberculosis paru, bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe.

c. Sesak nafas ( dispnue )
Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ), yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ), akibat adanya obstruksi bronkus. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya.

d. Demam berulang
Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik, sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru, sehingga sering timbul demam ( demam berulang )

2. Kelainan fisis

Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis, jari tubuh, manifestasi klinis komplikasi bronchitis. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat, dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus.

Sindrom kartagenr. Sindrom ini terdiri atas gejala-gejala berikut :
- Bronchitis congenital, sering disertai dengan silia bronkus imotil
- Situs inversus pembalikan letak organ-organ dalam dalam hal ini terjadi dekstrokardia, left sided gall bladder, left-sided liver, right-sided spleen.
- Sinusitis paranasal atau tidak terdapatnya sinus frontalis. Semua elemen gejala sindrom kartagener ini adalah keleinan congenital. Bagaimana asosiasi tentang keberadaanya yang demikian ini belum diketahui dengan jelas.

Bronchitis. Kelainan ini merupakan klasifikasi kelenjar limfe yang biasanya merupakan gejala sisa komleks primer tuberculosis paru primer. Kelainan ini bukan merupakan tanda klinis bronchitis, kelainan ini sering menimbulkan erosi bronkus didekatnya dan dapat masuk kedalam bronkus menimbulkan sumbatan dan infeksi, selanjutnya terjadilah bronchitis. Erosi dinding bronkus oleh bronkolit tadi dapat mengenai pembuluh darah dan dapat merupakan penyebab timbulnya hemaptoe hebat.

3. Kelainan laboratorium
Pada keadaan lanjut dan mulai sudah ada insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Bila penyakitnya ringan gambaran darahnya normal. Seing ditemukan anemia, yang menunjukan adanya infeksi kronik, atau ditemukan leukositosis yang menunjukan adanya infeksi supuratif.

Urine umumnya normal kecuali bila sudah ada komplikasi amiloidosis akan ditemukan proteiuria. Pemeriksaan kultur sputum dan uji sensivitas terhadap antibiotic, perlu dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi sekunder.

4. Kelainan radiologist
Gambaran foto dada ( plain film ) yang khas menunjukan adanya kista-kista kecil dengan fluid level, mirip seperti gambaran sarang tawon pada daerah yang terkena, ditemukan juga bercak-bercak pneumonia, fibrosis atau kolaps. Gambaran bronchitis akan jelas pada bronkogram.

5. Kelainan faal paru
Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital ( KV ) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama ( FEV1 ), terdapat tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi airan udara pernafasan. Dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 ini menunjukan abnormalitas regional ( maupun difus ) distribusi ventilasi, yang berpengaruh pada perfusi paru.

6. Tingkatan beratnya penyakit

a. Bronchitis ringan
Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam,  ada haemaptoe ringan, pasien tampak sehat dan fungsi paru norma, foto dada normal.

b. Bronchitis sedang
Ciri klinis : batuk produktif terjadi setiap saa, sputum timbul setiap saat,  ( umumnya warna hijau dan jarang mukoid, dan bau mulut meyengat ), adanya haemaptoe, umumnya pasien masih Nampak sehat dan fungsi paru normal. Pada pemeriksaan paru sering ditemukannya ronchi basah kasar pada daerah paru yag terkena, gmbaran foto dada masih terlihat normal.

c. Bronchitis berat
Ciri klinis : batuk produktif dengan sputum banyak, berwarna kotor dan berbau. Sering ditemukannya pneumonia dengan haemaptoe dan nyeri pleura. Bila ada obstruksi nafas akan ditemukan adany dispnea, sianosis atau tanda kegagalan paru. Umumny pasien mempunyai keadaan umum kurang baik, sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit, infeksi mata , pasien mudah timbul pneumonia, septikemi, abses metastasis, amiloidosis. Pada gambaran foto dada ditemukan kelainan : bronkovascular marking, multiple cysts containing fluid levels. Dan pada pemeriksaan fisis ditemukan ronchi basah kasar pada daerah yang terkena


DIAGNOSIS

Diagnosis pasti bronchitis dapat ditegakan apabila telah ditemukan adanya dilatasi dan nekrosis dinding bronkus dengan prosedur pemeriksaan bronkografi dan melihat bronkogram yang didapat.

Bronkografi tidak selalu dapat dikerjakan pada tiap pasien bronchitis, karena terikat adanya indikasi, kontraindikasi, syarat-syarat kaan elakukannya. Oleh karena pasien bronchitis umumnya memberikan gambaran klinis yang dapat dkenal, penegakan diagnosis bronchitis dapat ditempuh melewati proses diagnostik yang lazim dikerjakan dibidang kedokteran, meliputi:
  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisis
  • Pemeriksaan penunjang

DIAGNOSIS BANDING

Beberapa penyakit yang perlu diingat atau dipertimbangkan kalau kita berhadapan dengan pasien bronchitis :
- Bronchitis kronis ( ingatlah definisi klinis bronchitis kronis )
- Tuberculosis paru ( penyakit ini dapat disertai kelainan anatomis paru berupa bronchitis )
- Abses paru  ( terutama bila telah ada hubungan dengan bronkus besar )
- Penyakit paru penyebab hemaptomisis misalnya karsinoma paru, adenoma paru )
- Fistula bronkopleural dengan empisema

KOMPLIKASI

Ada beberapa komplikasi bronchitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain :
  • Bronchitis kronik
  • Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronchitis sering mengalami infeksi berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.
  • Pleuritis. Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
  • Efusi pleura atau empisema
  • Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian
  • Haemaptoe terjadi kerena pecahnya pembuluh darah cabang vena ( arteri pulmonalis ) , cabang arteri ( arteri bronchialis ) atau anastomisis pembuluh darah. Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah gawat darurat.
  • Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronchitis pada saluran nafas
  • Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt, terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
  • Kegagalan pernafasan merupakan komlikasi paling akhir pada bronchitis yang berat da luas
  • Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.

PENATALAKSANAAN

Pengelolaan pasien bronchitis terdiri atas dua kelompok :

A. Pengobatan konservatif, terdiri atas :

1.   Pengelolaan umum
Pengelolaan umum ditujukan untuk semua pasien bronchitis, meliputi :
a. Menciptakan lingkungan yang baik dan tepat untuk pasien :
Contoh :
  • Membuat ruangan hangat, udara ruangan kering.
  • Mencegah / menghentikan rokok
  • Mencegah / menghindari debu,asap dan sebagainya.

b. Memperbaiki drainase secret bronkus, cara yang baik untuk dikerjakan  adalah sebagai berikut :
• Melakukan drainase postural
Pasien dilelatakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa sehingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimum. Tiap kali melakukan drainase postural dilakukan selama 10 – 20 menit, tiap hari dilakukan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum ( secret bronkus ) dengan bantuan gaya gravitasi. Posisi tubuh saat dilakukan drainase postural harus disesuaikan dengan letak kelainan bronchitisnya, dan dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan pada pada punggung pasien dengan punggung jari.
• Mencairkan sputum yang kental
Dapat dilakukan dengan jalan, misalnya inhalasi uap air panas, mengguanakan obat-obat mukolitik dan sebagainya.
• Mengatur posisi tepat tidur pasien
Sehingga diperoleh posisi pasien yang sesuai  untuk memudahkan drainase sputum.

c. Mengontrol infeksi saluran nafas.
Adanya infeksi saluran nafas akut ( ISPA ) harus diperkecil dengan   jalan mencegah penyebaran kuman, apabila telah ada infeksi perlu adanya antibiotic yang sesuai agar infeksi tidak berkelanjutan.

2. Pengelolaan khusus

a.  Kemotherapi pada bronchitis
Kemotherapi dapat digunakan :
  • secara continue untuk mengontrol infeksi bronkus ( ISPA )
  • untuk pengobatan aksaserbasi infeksi akut pada bronkus/paru
  • atau kedua-duanya digunakan

Kemotherapi menggunakan obat-obat antibiotic terpilih, pemkaian antibiotic antibiotic sebaikya harus berdasarkan hasil uji sensivitas kuman terhadap antibiotic secara empiric.

Walaupun kemotherapi jelas kegunaannya pada pengelolaan bronchitis, tidak pada setiap pasien harus iberikan antibiotic. Antibiotik diberikan jika terdapat aksaserbasi infeki akut, antibiotic diberikan selama 7-10 hari  dengan therapy tunggal atau dengan beberapa antibiotic, sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning/hijau menjadi mukoid ( putih jernih).

Kemotherapi dengan antibiotic ini apabila berhasil akan dapat mengurangi gejala batuk, jumlah sputum dan gejala lainnya terutama pada saat terjadi aksaserbasi infeksi akut, tetapi keadaan ini hanya bersifat sementara.

b. Drainase secret dengan bronkoskop
Cara ini penting dikerjakan terutama pada saat permulaan perawatan  pasien. Keperluannya antara lain :
  • Menentukan dari mana asal secret
  • Mengidentifikasi lokasi stenosis atau obstruksi bronkus
  • Menghilangkan bstruksi bronkus dengan suction drainage daerah  obstruksi.

3. Pengobatan simtomatik
Pengobatan ini diberikan jika timbul simtom yang mungkin mengganggu atau mebahayakan pasien.

a. Pengobatan obstruksi bronkus
Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari hasil uji faal paru ( % FEV 1 < 70% ) dapat diberikan obat bronkodilator.

b. Pengobatan hipoksia.
Pada pasien yang mengalami hipoksia perlu diberikan oksigen.

c. Pengobatan haemaptoe.
Tindakan yang perlu segera dilakukan adalah upaya menghentikan perdarahan. Dari berbagai penelitian pemberian obat-obatan hemostatik dilaporkan hasilnya memuaskan walau sulit diketahui mekanisme kerja obat tersebut untuk menghentikan perdarahan.

d. Pengobatan demam.
Pada pasien yang mengalami eksaserbasi inhalasi akut sering terdapat demam, lebih-lebih kalau terjadi septikemi. Pada kasus ini selain diberikan antibiotic perlu juga diberikan obat antipiretik.

B. Pengobatan pembedahan
a. Tujuan pembedahan : mengangkat ( reseksi ) segmen/ lobus paru yang terkena.

b. Indikasi pembedahan :
  • Pasien bronchitis yang yang terbatas dan resektabel, yang tidak berespon yang tidak berespon terhadap tindakan-tindakan konservatif yang adekuat. Pasien perlu dipertimbangkan untuk operasi
  • Pasien bronchitis yang terbatas tetapi sering mengaami infeksi berulang atau haemaptoe dari daerakh tersebut. Pasien dengan haemaptoe massif seperti ini mutlak perlu tindakan operasi.
c. Kontra indikasi
  • Pasien bronchitis dengan COPD
  • Pasien bronchitis berat
  • Pasien bronchitis dengan koplikasi kor pulmonal kronik dekompensasi.

d. Syarat-ayarat operasi.
  • Kelainan ( bronchitis ) harus terbatas dan resektabel
  • Daerah paru yang terkena telah mengalami perubahan ireversibel
  • Bagian paru yang lain harus masih baik misalnya tidak ada bronchitis atau bronchitis kronik.

e. Cara operasi.
  • Operasi elektif : pasien-pasien yang memenuhi indikasi dan tidak terdapat kontra indikasi, yang gagal dalam pengobatan konservatif dipersiapkan secara baik utuk operasi. Umumnya operasi berhasil baik apabila syarat dan persiapan operasinya baik.
  • Operasi paliatif : ditujukan pada pasien bronchitis yang mengalami keadaan gawat darurat paru, misalnya terjadi haemaptoe masif ( perdarahan arterial ) yang memenuhi syarat-syarat dan tidak terdapat kontra indikasi operasi.

f. Persiapan operasi :
  • Pemeriksaan faal paru : pemeriksaan spirometri,analisis gas darah, pemeriksaan broncospirometri ( uji fungsi paru regional ).
  • Scanning dan USG.
  • Meneliti ada atau tidaknya kontra indikasi operasi pada pasien.
  • Memperbaiki keadaan umum pasien.

PENCEGAHAN
Timbulnya bronchitis sebenarnya dapat dicegah, kecuali dalam bentuk congenital tidak dapat dicegah. Menurut beberapa literature untuk mencegah terjadinya bronchitis ada beberapa cara :
  • Pengobatan dengan antibiotic atau cara-cara lain secara tepat terhadap semua bentuk pneumonia yang timbul pada anak akan dapat mencegah ( mengurangi ) timbulnya bronchitis
  • Tindakan vaksinasi terhadap pertusis ( influenza, pneumonia ) pada anak dapat pula diartikan sebagai tindakan preventif terhadap timbulnya bronchitis.

PROGNOSIS
Prognosis pasien bronchitis tergantung pada berat ringannya serta luasnya penyakit waktu pasien berobat pertama kali. Pemilihan pengobatan secara tepat ( konservatif atau pembedahan ) dapat memperbaiki prognosis penyakit.

Pada kasus-kasus yang berat dan tidak diobati, prognosisnya jelek, survivalnya tidak akan lebih dari 5-10 tahun. Kematian pasien karena pneumonia, empiema, payah jantung kanan, haemaptoe dan lainnya.

Sindroma Mata Kering Akibat Monitor Komputer

http://medicalplanology.blogdetik.com/files/2010/03/66537_mata_sehat_thumb_300_225.jpg
Beragamnya "hiburan" yang bisa diakses lewat internet membuat orang betah berlama-lama duduk di depan komputer. Padahal, menatap terus-menerus layar komputer tak baik untuk kesehatan mata. Salah satunya bisa terkena sindrom mata kering. Apabila kondisi itu dibiarkan berlarut-larut, tidak saja mengganggu penglihatan, tapi juga menimbulkan infeksi di kornea mata akibat kekurangan cairan.
"Sindrom mata kering juga bisa disebabkan udara yang sangat kering, angin, debu, polusi, dan asap rokok. Alternatif pengobatannya adalah dengan memberi pasien air mata buatan," kata dr Muhammad Hafiz, SpM, dokter spesialis mata dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dalam acara media edukasi tentang kesehatan mata, di Jakarta, belum lama ini.

Air mata buatan yang dimaksud salah satunya menggunakan obat tetes yang banyak dijual di pasaran. Namun, dr Hafiz meminta masyarakat untuk memperhatikan dengan saksama komposisi obat tetes mata, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter, sebelum memutuskan memilih obat tetes mata yang baik untuk mata Anda," kata dr Hafiz menegaskan.

Dijelaskan, sindrom mata kering terjadi karena ditemukannya lapisan air mata (tear film) yang tidak normal pada mata. Pada mata normal, tear film akan membasahi permukaan bola mata sepanjang waktu dalam kadar yang normal (tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering).

Sementara itu, bola mata terdiri atas tiga lapisan. Di antaranya adalah lapisan lemak atau minyak, lapisan akuos atau air, dan yang terakhir adalah lapisan musin atau lendir. Setiap lapisan memiliki fungsi dan tugas masing-masing.

Lapisan minyak, misalnya, berfungsi untuk mencegah penguapan air mata yang berlebihan jika mata sedang aktif setiap harinya. Lapisan minyak ini juga berfungsi sebagai pelicin bola mata. Lapisan akuos atau air memiliki fungsi yang berbeda pula, yaitu untuk membersihkan atau membuang benda-benda asing yang masuk ke dalam mata tanpa sengaja.

"Debu atau bulu mata yang tidak sengaja jatuh dan masuk ke dalam mata, akan dikeluarkan oleh lapisan bola mata akuos ini. Lapisan ketiga, sesuai dengan namanya, yaitu musin atau lendir, berfungsi untuk menjaga agar air mata bisa menempel pada bola mata dalam jangka waktu tertentu," katanya.

Lalu, yang menyebabkan sindrom mata kering, dr Hafiz menjelaskan, jika salah satu dari tiga lapisan bola mata mengalami gangguan, maka akan terjadilah kelainan mata yang disebut dengan sindrom mata kering. Sindrom mata kering akan menyebabkan produksi air mata berkurang. "Dalam kasus sindrom mata kering akan makin parah seiring dengan bertambahnya usia," ucap dr Hafiz seraya menambahkan bahwa sindrom mata kering dapat diderita oleh semua usia, baik pria maupun wanita.

Gangguan mata dalam kasus sindrom mata kering bisa juga disebabkan oleh kondisi penyakit tertentu, misalnya kelainan kongenital, rematik, leukemia, hormonal (menopause), diabetes melitus, trauma kelenjar air mata, defisiensi vitamin A, dan C, trauma bahan kimia atau panas.

"Meski faktor penyebab seperti polusi, angin, dan debu atau penggunaan komputer yang berlebihan sudah tak ada, tetapi mata tetap terasa kering, maka patut dicurigai adanya penyakit yang bersemayam dalam tubuh yang menyebabkan gejala mata kering itu," katanya.

Untuk mengenali gejala awal terjadinya serangan mata kering, bisa dilihat dari keluhan pasien ketika datang berobat ke rumah sakit. Keluhan itu biasanya pasien merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam mata, atau di dalam mata seperti ada benda asing dan tidak bisa membaca dalam jangka waktu lama. Biasanya gejala tersebut akan makin terasa menjelang malam. "Keluhan seperti itulah yang paling banyak terjadi jika seseorang mengalami sindrom mata kering," tutur dr Hafiz.

Mata Berpasir
Gejala lainnya, pasien akan merasakan matanya seperti berpasir, terkadang mata terasa terbakar, silau jika terkena cahaya walaupun sebenarnya cahaya yang masuk tidak terlalu terang. "Namun, agar lebih efektif, biasanya pasien akan diperiksa dengan menggunakan schirmer test untuk mengetahui produksi air mata. Atau, bisa pula dengan menggunakan tearscope untuk mengetahui kualitas air mata," katanya.

Selain memberikan air mata buatan, untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, disarankan kepada pasien untuk menggunakan kacamata pelindung. Kacamata pelindung akan sedikit berbeda dengan kacamata biasa. Intinya, melindungi mata dari panas berlebih atau debu.

Untuk mencegah terjadinya sindrom mata kering, pasien atau mereka yang belum terkena bisa menghindari debu atau udara yang kering. "Polusi dari asap kendaraan juga bisa membuat terjadinya sindrom mata kering tersebut. Jadi, usahakan ke mana-mana kalau ke luar rumah memakai kacamata pelindung. Kalau tidak ada, kacamata hitam juga boleh," kata Hafiz menambahkan.

Ia lalu memaparkan sejumlah tips untuk mengatasi mata kering. Disebutkan, usahakan untuk mengistirahatkan mata setelah beberapa saat memandang layar komputer. Anda bisa memejamkan mata sejenak agar bola mata bisa dibasahi secara alami dan memandang ke arah selain monitor sambil mengedipkan mata.

Selain itu, jangan mengarahkan mata ke udara yang berembus kencang di depan kipas angin, pengering rambut, atau dekat jendela. Sangat dianjurkan pula untuk menggunakan kacamata jika berada di tempat-tempat tersebut. Selain itu, ketika hendak berenang, jangan lupa mengenakan kacamata renang untuk menghindari iritasi.

"Jika ada waktu, kompreslah mata dengan menggunakan kapas yang telah direndam dengan air bersih selama beberapa menit. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi warna kemerahan dan keletihan pada mata kering," kata dr Hafiz menandaskan.

Informasi Penyakit : Sistemik Lupus Eritematous/SLE (Gejala dan Pengobatanya)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6U2tx3g6idyV8Ga0HH18WqCR587E6qWF6nFTJXbecvTvxLJYg1NRN7xgA4AQNGMTrfZUmr7r7f6mjNAmPwCQ8Wtc63Rxrmuqz3X6RgrD-vh8pBRO17o3CcxbfOk8HtCPlPSl2PRtU9jI/s1600/LUPUS.jpg
Apakah lupus itu??? 

Sistemik Lupus Eritematosus, atau yang lebih dikenal dengan nama lupus, merupakan penyakit otoimun, yang artinya antibodi yang dibentuk dalam tubuh penderita, justru merusak organ tubuh sendiri. Di dalam tubuh manusia terdapat sistem kekebalan tubuh berupa antibodi. 
Sistem kekebalan ini berfungsi untuk melindungi tubuh manusia dari serangan antigen, yang berupa bakteri, virus atau mikroba lainya. Pada lupus, oleh suatu sebab yang belum diketahui, sistem kekebalan tubuh itu justru menjadi liar dan menyerang organ tubuh yang seharusnya dilindungi. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat lebih dari 5 juta pasien lupus dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 penderita baru, baik usia anak-anak, dewasa, laki-laki maupun perempuan.

 Apa saja gejala dari lupus?  

Gejala dari penyakit lupus dibedakan atas gejala umum dan gejala pada organ tertentu. Gejala umum yang sering ditemukan antara lain seperti demam, pegal-pegal, rasa lemah, dan menurunya nafsu makan yang dikuti dengan turunya berat badan. Pada wanita dapat terjadi gangguan pada siklus menstruasi bahkan hingga tidak mengalami menstruasi sama sekali.  

Organ-organ yang dapat terkena pada penyakit lupus antara lain: 

1.    Kulit

Pada 80% penderita ditemukan kelainan kulit berupa ruam/rashbuterfly rash). Di bagian tubuh lainnya terdapat bercak merah berbentuk cakram dan terkadang bersisik. Kerontokan rambut dan sariawan merupakan gejala lain yang sering ditemukan. Kalau dilihat secara utuh, penderita lupus dengan gejala-gejala tadi akan tampak mirip monster. yang berbentuk seperti kupu-kupu pada kedua pipi (

2.    Jantung

Pada jantung dapat terjadi radang pada otot jantung (miokarditis), radang pada selaput luar pembungkus jantung (perikarditis), kerusakan/insufisiensi katup jantung (biasanya katup aorta dan mitral), bahkan sampai kematian pada otot jantung (infark miokard). 

3.    Paru-paru

Pada 2/3 kasus lupus didapatkan penimbunan cairan pada selaput pembungkus paru (efusi pleura). Dapat juga terjadi radang pada selaput pembungkus paru (pleuritis) yang menyebabkan penderita mengalami demam, batuk, nyeri dada dan sesak nafas.

4.    Saluran PencernaanGejala yang ditemui 

pada saluran pencernaan dapat berupa mual, muntah, menurunya nafsu makan, diare, atau sukar buang air besar. Hati dapat membesar dan meradang yang dapat berlanjut hingga perforasi abdomen.

5.    Ginjal

Kelainan pada ginjal ditemukan pada kurang lebih 30% dari penderita lupus. Terjadi gangguan fungsi ginjal yang mengakibatkan tidak dapat dikeluarkannya racun hasil metabolisme dan banyaknya kandungan protein dalam urin.

6.    Sistem saraf

Kelainan pada sistem saraf dapat berupa sakit kepala sebelah yang mirip dengan migren (migraine-like headache), gangguan peredaran darah otak, perdarahan subaraknoid dan epilepsi. Selain itu lupus juga dapat menimbulkan gangguan psikiatri seperti cemas, gangguan mood, emosi labil, depresi, serta menurunya fungsi memori seseorang.

7.    Sendi

Keterlibatan sendi terjadi pada 90% penderita. Dapat terjadi pembengkakan pada jaringan ikat, terutama pada jari-jari tangan, tangan dan pergelangan tangan, yang nyeri dengan atau tanpa disertai kemerahan.

8.    Sistem otot

Nyeri otot biasanya ditemukan pada 50% penderita lupus. Selain itu dapat pula ditemukan adanya penurunan massa otot (atrofi otot) yang dapat menyebabkan kelemahan pada banyak otot-otot dalam tubuh.

 

Bagaimana mendiagnosis lupus?

 

American Rheumatology Association (ARA) membuat 11 kriteria untuk dapat menegakkan diagnosis lupus. Diagnosis dapat ditegakan bila pada penderita ditemukan 4 dari 11 kriteria yang ada. Kriteria lupus menurut ARA tersebut meliputi:

1.    Ruam/rash yang kontinyu (Malar rash)

2.    Ruam/rash yang berbentuk bulat (Discoid rash)3.    Peka terhadap rangsangan cahaya (Photosensitivity)

4.    Ulkus atau luka pada mulut dan bagian belakang hidung (nasofaring)

5.    Radang sendi yang non-erosif (non-erosive arthritis)

6.    Pleuritis atau Perikarditis

7.    Gangguan pada ginjal dengan ditemukanya protein pada urin (proteinuria) >0,5g/hari

8.    Kelainan neurologis pada penderita

9.    Kelainan darah, yaitu anemia hemolitik dimana terjadi penurunan jumlah sel darah putih (lekopenia) <4 .000="" atau="" darah="" jumlah="" keeping="" mm3="" nbsp="" penurunan="" span="" trombositopenia="">

10.    Kelainan imunologis dimana ditemuka sel LE atau anti DNA pada pemeriksaan serologis

11.    Nilai abnormal dari Antinuclear Antibody (ANA) yang didapatkan dari pemeriksaan imunoflorescent 

 

Bagaimana pengobatan lupus? 

 

Pengobatan untuk lupus adalah dengan menggunakan imunosupresan (obat yang menekan sistem imun), yaitu obat dari golongan kortikosteroid. Selain itu dapat juga dipakai obat-obat golongan lain untuk mengatasi gejala lupus, seperti obat golongan anti inflamasi non steroid (OAINS) untuk mengatasi keluhan nyeri dan bengkak sendi, obat anti malaria untuk mengatasi gejala pada kulit, rambut, dan otot, atau golongan obat-obatan  yang lainya. 

Penggunaan obat-obat tadi harus dengan pertimbangan matang mengingat efek samping yang ditimbulkan. Obat kortikosteroid, misalnya, bisa memberi efek samping berupa wajah membulat (moonface), osteoporosis, diabetes melitus, hipertensi, gangguan lambung, dan sebagainya. OAINS menimbulkan gangguan lambung, ginjal, darah, dan sebagainya. Obat antimalaria memberi dampak gangguan penglihatan.

 

Pengobatan lupus dengan Complementary Alternative Medicine (CAM) 

 

Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan oleh obat untuk mengontrol lupus, maka penelitian-penelitian digalakan untuk mencari bahan-bahan alami yang dapat mengontrol lupus tanpa menimbulkan efek samping pada pemakainya. Dari penelitian, ditemukan bahwa terdapat 2 jenis jamur yang berguna untuk mengontrol lupus, yaitu Ganoderma lucidum dan Phellinus linteus. 

Sistem imun tubuh manusia terdiri dari sel limfosit T, sel limfosit B, dan makrofag. Sel limfosit T memainkan peranan penting dalam timbulnya manifestasi Lupus, dimana terjadi hiperaktivasi (aktivitas yang berlebihan) dari sel T, dan ketidakmampuan sel Treg, yang berguna untuk regulasi aktivitas dari sel T, untuk mengontrol aktivitas dari sel T. Hal tersebut akan mengakibatkan terjadinya reaksi otoimun. Ganoderma lucidumPhellinus linteus bekerja dengan cara mengaktifkan sel limfosit Treg sehingga hipereaktivitas dari sel limfosit T dapat ditekan. Apabila hal ini terjadi maka manifestasi dari penyakit lupus pun dapat dikontrol.

Informasi Penyakit : Spondylosis (Penyebab dan Pencegahannya)

http://www.texasback.com/_images/back_images/large_whole_spine.jpg?1228330044
Spondylosis adalah sejenis penyakit rematik yang menyerang tulang belakang (spine osteoarthritis) yang disebabkan oleh proses degenerasi sehingga mengganggu fungsi dan struktur tulang belakang. Spondylosis dapat terjadi pada level leher (cervical), punggung tengah (thoracal), maupun punggung bawah (lumbal). Proses degenerasi dapat menyerang sendi antar ruas tulang belakang, tulang dan juga penyokongnya (ligament).
 
Gejala 
Manifestasinya macam-macam. Bila degenerasi terjadi pada sendi antar ruas-ruas tulang belakang, maka dapat terjadi penipisan sendi dan ruas tulang merapat satu sama lain, sehingga tinggi badan bisa berkurang. Selain itu juga jaringan yang terdapat di dalam sendi antar ruas tersebut bisa menonjol ke luar yang disebut hernia discus. Bila terjadi seperti ini maka penderita spondylosis akan merasa nyeri di punggungnya akibat penekanan struktur tersebut ke jaringan sekitarnya. Selain itu hernia discus juga dapat menekan ke dalam sumsum tulang belakang sehingga menimbulkan gangguan saraf baik motorik, sensorik, maupun otonom sehingga bisa saja bermanifestasi menjadi kelumpuhan, gangguan sensori seperti kesemutan dan mati rasa, dan gangguan otonom seperti gangguan berkeringat, gangguan buang air besar maupun kecil.

Bukan hanya itu saja, proses degenerasi bisa menimbulkan penipisan rawan sendi dan penonjolan tulang yang disebut osteophyte atau awam biasa menyebutnya pengapuran. Akibatnya otot dan jaringan penunjang sekitarnya dapat teriritasi oleh tonjolan tulang tersebut dan penderita akan merasakan nyeri dan kaku.

Pemeriksaan

Apabila menemukan gejala tersebut dokter biasanya menanyakan keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik seperti nyeri tekan dan jangkauan gerak. Setelah itu apabila dianggap perlu, dokter akan menyarankan penderita melakukan berbagai pemeriksaan misalnya X-ray, CT-scan atau MRI.
 
Terapi

Penanganan bervariasi tergantung penilaian dokter akan kondisi dan gejala pasiennya. Secara umum ada penanganan bedah dan non-bedah. Penanganan bedah baru disarankan apabila penderita menampilkan gejala gangguan neurologis yang mengganggu kualitas hidup penderita. Selain itu dokter juga memperhatikan riwayat kesehatan umum pasien dalam menyarankan tindakan bedah. Apabila tidak perlu, maka dokter akan menyarankan penanganan non bedah yang meliputi pemberian obat antiradang (NSAID), analgesik, dan obat pelemas otot. Selain itu apabila perlu dokter dapat menganjurkan pemasangan alat bantu seperti cervical collar yang tujuannya untuk meregangkan dan menstabilkan posisi. Fisioterapi berupa pemberian panas dan stimulasi listrik juga dapat membantu melemaskan otot. Dan yang tak kalah pentingnya adalah exercise. Dengan exercise maka otot-otot yang lemah dapat diperkuat, lebih lentur dan memperluas jangkauan gerak.
 
Penyebab

Tidak ada yang tahu persis apa yang menyebabkan pada seseorang terjadi proses degenerasi pada sendi tersebut sedangkan orang lain tidak. Tapi ada beberapa faktor resiko yang dapat memperberat atau mencetuskan penyakit ini. Faktor usia dan jenis kelamin salah satunya, semakin tua semakin banyak penderita spondylosis. Dari temuan radiografik (Holt, 1966) kejadiannya 13% pada pria usia 30-an, dan 100% pada pria usia 70-an. Sedangkan pada wanita umur 40-an 5% dan umur 70-an 96%. Faktor lain yang turut meningkatkan kejadian spondylosis adalah faktor trauma, ’wear and tear’ alias pengausan, dan genetik. Perlu diingat bahwa tulang punggung adalah penahan berat, jadi tentunya berhubungan dengan pekerjaan dan obesitas. Misalnya orang yang mempunyai pekerjaan sering mengangkat beban berat maka kecenderungan terkena spondylosis lebih tinggi, dan orang yang gemuk dengan sendirinya juga memberi beban lebih pada sendi di ruas tulang punggung sehingga meningkatkan kemungkinan terkena spondylosis. Merokok juga dilaporkan merupakan faktor resiko penyakit ini.
 
Pencegahan
Mengingat beratnya gejala penyakit ini dan kita tidak pernah tahu seberapa cepat proses degenerasi terjadi pada tulang punggung kita, maka ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dari sekarang untuk mengurangi resiko terjadinya spondylosis. Data ini diambil dari website Mayo Clinic.
  1. Hindari aktivitas dengan benturan tinggi (high impact), misalnya berlari. Pilih jenis olah raga yang lebih lembut dan mengandalkan peregangan dan kelenturan.
  2. Lakukan exercise leher dan punggung yang dapat meningkatkan kekuatan otot, kelenturan, dan jangkauan gerak.
  3. Jangan melakukan aktivitas dalam posisi yang sama dalam jangka waktu lama. Beristirahatlah sering-sering. Misalnya waktu menonton TV, bekerja di depan komputer, ataupun mengemudi.
  4. Pertahankan postur yang baik. Duduklah yang tegak. Jangan bertumpu pada satu kaki bila berdiri. Jangan membungkuk bila hendak mengangkat barang berat lebih baik tekuk tungkai dan tetap tegak.
  5. Lindungi diri dengan sabuk pengaman saat berkendara. Hal ini membantu mencegah terjadinya cedera bila ada trauma.
  6. Berhenti merokok. Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya spondylosis.
Selamat bergaya hidup sehat!

Sekilas Tentang Penyebab dan Pengobatan Pterigium (Selaput Mata)

http://www.ucm.es/centros/webs/euoptica/cont/descargas/fotocat2272.jpg

Pterigium adalah suatu timbunan atau benjolan pada selaput lendir atau konjungtiva yang bentuknya seperti segitiga dengan puncak berada di di arah kornea.

Timbunan atau benjolan ini bikin penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar dan mengarak ke daerah kornea, sehingga bisa jadi menutup kornea dari arah nasal dan sampai ke pupil, jika sampai menutup pupil maka penglihatan kita akan terganggu.Apa yang menyebabkan Pterigium?

Yang pasti belum di ketahui dengan jelas, namun banyak di jumpai di daerah pantai sehingga kemungkinan penyebabnya adalah adanya rangsangan dari udara panas, juga bagi orang yang sering berkendara motor tapa helm penutup atau kacamata pelindung, sehingga adanya rangsangan debu jalanan yang kotor bisa mengakibatkan timbunan lemak tersebut.

Keluhan yang sering terjadi adalah mata sering merah dan sangat terasa sekali saat kena debu luar. Sampai saat ini pengobatannya hanya mencegah mata merah saja di samping yang pasti adalah tindakan operasi kecil, yaitu dengan membuang benjolan tersebut. Operasinya cepat hanya di bius lokal dan langsung bisa di kupas pterigiumnya.

Tindakan operasi di lakukan jika sudah masuk ke kornea dan mengganggu penglihatan. Akan muncul masalah baru yaitu seringnya tumbuh kembali atau kambuh untuk pterigium ini.